Autobiografi
Saat
masih kecil banyak orang yang mengira kalau saya keturunan Cina, mungkin karena
mata sipit, gendut dan kulit kuning langsat. Setiap pertumbuhan saya, ibu
selalu mendokumentasikannya, mulai bisa tengkurap, duduk sampai bisa berdiri
dan foto-foto itu masih terpasang di dinding rumah. Diusia empat setengah
tahun, pertama kalinya saya menginjak bangku pendidikan, di TK Putra Utama aku
mulai mengenal angka dan huruf serta belajar mewarnai. Diusia yang masih dini
itu, orang tua saya tidak pernah menungguin saya dengan alasan pekerjaan dan hal
itulah yang terkadang memunculkan rasa iri pada teman-temanku yang selalui
ditungguin nyampe pulang sekolah. Dibangku TK, awal mula saya mengenal
orang-orang baru dan hal itu berdampak pada ketidakpercayaan diri dan rasa
malu.
Setahun
berlalu, tiba saatnya saya mengenakan seragam merah putih ditahun 2000 untuk
pertama kalinya dan diwaktu itulah menunjukkan kenaikan jenjang pendidikan saya
yaitu kelas satu sekolah dasar. Di Sekolah Dasar Negeri Bringin saya meneruskan
jenjang pendidikan, dimana sebagian besar penghuni kelas didominasi teman saya
saat TK. Di kelas lima tepatnya tahun 2005, guru menanyakan cita-cita setiap
siswanya, pertanyaan itupun sampai pada urutann saya. Tanpa pikir panjang saya
menjawab menjadi seorang guru adalah cita-cita saya.Waktunya di tahun 2006
dimana Ujian Nasional (UN) untuk jenjang SD dilaksanakan, dimana ujian tersebut
menjadi momok terbesar untuk semua murid kelas enam dan ujian yang menentukan
posisi kelulusan siswa serta penempatan siswa dijenjang pendidikan selanjutnya.
Masa
penerimaan peserta didik baru tahun 2006/2007, saya mulai kebingungan mencari
sekolah lanjutan. Di SMP Negeri 4 Juwana tempat pendidikan yang menjadi
pilihanku setelah jenjang SD. Dimasa SMP, dimana saya mendapatkan teman-teman
baru diluar daerah dan saat anak menunjukkan kelabilannya. Dimasa itu saya
sering berantem dengan siswa cowok. Nama siwa yang paling jahilpun selalu
teringat, diantaranya Handri Wahyu W, Ahmad Ali, Ahmad Sakur dan
segerombolannya. Saat SMP saya mulai hobi membaca, terutama membaca komik dan
novel. Satu hal yang saya ingat, dalam pelajaran bahasa Indonesia saya tidak
memperhatikan guru tapi memperhatikan rangkaian kata yang ada dinovel.tiga
tahun berlalu, saatnya menghadapi momok yang mengerikan untuk kedua kalinya,
tapi dengan tahun yang berbeda yaitu ditahun 2009. Saat itu aku mulai berfikir
untuk selalu belajar agar bisa masuk di sekolah yang saya inginkan. Dan
keinginan itupun terwujud, mendapatkan nilai terbaik urutan ke empat dalam
lingkup paralel dan masuk di SMA Negeri 1 Juwana. SMA terfavorit di kecamatan
Juwana.
Di
kelas X saya masuk di kelas X-6, dengan teman yang baru saya temui. Kelas X
tentu mendapatkan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibandingkan kelas XI dan
XII. Karena saat itu belum ada peminatan jurusan untuk kelas X. Akuntansi
adalah mata pelajaran yang paling saya sukai. Hinnga membuat cita-cita saya
berubah yang awalnya guru menjadi pegawai bank. Setahunpun terlalui, tahun
ajaran baru ditahun 2010/2011, dimana pendidikanku naik kelas menjadi kelas XI.
Disaat itulah setiap siswa dibingungkan dengan jurusan yang diinginkan. Dan
saya ditempatkan di jurusan IPA, tepatnya dikelas IPA-1. Di kelas itu terdapat
dua kepercayaan yaitu agama Kristen dan Islam. mulai saat itu saya dipusingkan
dengan rumus fisika, nama-nama yang aneh dalam kimia dan hafalan yang
menggunung dalam biologi. Setahun terlalui berbagai ilmu Science sudah tidak asing lagi didengar di kelas XII. Keluar lagi
ingatan mengenai Ujian Nasional atau yang biasa disebut UN. UN SMA yang paling
menakutkan yang pernah saya lalui sebelum-sebelumnya. Tiba saatnya ujian
dimulai, rasa gugup tercampur takut juga singgah dipikiranku. Pengumuman
kelulusan selama ini dinanti kedatangannya, amplop berisi kata LULUS yang
diharapkan setiap siswa. Atas Rahmad Allah SWT juga kata LULUS tercantup
diamplop yang saya terima.
Jenjang
selanjutnya yang saya tempuh adalah perguruan tinggi. Kebibungan memilih
perguruan tinggi juga saya rasakan. Setelah di Polines dan UGM tidak diterima, pilihan terakhir adalah IAIN walisongo
Semarang. Dan itu adalah jalan pendidikan saya menuju masa depan. Awal masuk
perguruan tinggi juga menjadi awal saya memakai jilbab. Tadris Fisika merupakan
pilihan pertama yang saya cantumkan dalam pengisian formulir pendaftaran. di
Tadris Fisika ini lah saya menemukan teman-teman yang gokil yang, bahkan hampir
menyerupai keanehan. Jauh dari pandangan orang kalau anak fisika itu selalu serious. Tahun berlalu begitu cepat dan
saya enjoy menikmati hariku bersama
mereka.
Beberapa
bulan lalu saya merasakan hal teraneh,
dimana saya merasa kehilangan dan pasti tidak bertemu lagi. Salah satu nenek
saya yang bernama Suparni menghembuskan nafas terakhirnya dibulan Juni lalu.
Dua dua bulan sebelumnya salah satu saudara saya yang bernama Harsono meninggal
dunia. Hal itu tentu mengingatka peristiwa Dua tahun sebelumnya, dimana temanku
Mahfudh Dhonofi meninggalkan dunia karena kecelakan. Dan disetiap doa’ku aku
berharap mereka selalu ditempatkan yang paling indah disisi Allah SWT.
Sampai
tiba sekarang posisiku disemester V, saya merasa semester ini paling berat dari
semester-semester sebelumnya. Berbagai tugas menumpuk dan harus dikebut dalam
jangka waktu yang pendek. Namun saya yakin hal itu akan terasa mudah selama
masih ada orang-orang yang menyayangiku terutama kedua orang tua, aku janji
akan membahagiakan kalian. Terimakasih tidak terhingga saya panjatkan kepada
Allah SWT dan kedua orang tua. Terimaksih kepada orang-orang yang aku sayangi
dan telah mendukung saya. Dan terimakasih kepada teman-teman.





