Container Icon

Autobiografi

Autobiografi
Nama saya Ulin Nafi’ah. Orang-orang disekitar saya biasa memanggil Ulin. Saya lahir di Pati, tepatnya disebuah desa kecil yang berada diperbatasan antara Kecamatan Juwana dan Kecamatan Jakenan, yaitu Desa Bringin di RT01/I, Juwana. Di hari Minggu, tepatnya tanggal 13 November 1994 saya merasakan hirupan udara pertama kalinya.  Saya dilahirkan dari pasangan Sukarno dan Warsini. Saya merupakan anak kedua dari dua berasaudara, dan saya adalah anak perempuan satu-satunya. Kakak saya bernama Imam Syafi’i. Baya juga banyak orang yang bilang kalau saya itu manja.  Salah satu faktornya, mungkin karena saya adalah anak terakhir dan kakak sudah membangun keluarga baru. Saya masih ingat betul saat saya berantem dengan kakak saya, hampir setiap hari kita cekcok dengan hal yang tidak penting. Namun setelah berpisah sepuluh tahun yang lalu gara-gara masalah pekerjaan, saya merasakan ada hal yang aneh dan kurang didalam keluarga, meskipun dia selalu pulang setiap tahunnya.
Saat masih kecil banyak orang yang mengira kalau saya keturunan Cina, mungkin karena mata sipit, gendut dan kulit kuning langsat. Setiap pertumbuhan saya, ibu selalu mendokumentasikannya, mulai bisa tengkurap, duduk sampai bisa berdiri dan foto-foto itu masih terpasang di dinding rumah. Diusia empat setengah tahun, pertama kalinya saya menginjak bangku pendidikan, di TK Putra Utama aku mulai mengenal angka dan huruf serta belajar mewarnai. Diusia yang masih dini itu, orang tua saya tidak pernah menungguin saya dengan alasan pekerjaan dan hal itulah yang terkadang memunculkan rasa iri pada teman-temanku yang selalui ditungguin nyampe pulang sekolah. Dibangku TK, awal mula saya mengenal orang-orang baru dan hal itu berdampak pada ketidakpercayaan diri dan rasa malu.
Setahun berlalu, tiba saatnya saya mengenakan seragam merah putih ditahun 2000 untuk pertama kalinya dan diwaktu itulah menunjukkan kenaikan jenjang pendidikan saya yaitu kelas satu sekolah dasar. Di Sekolah Dasar Negeri Bringin saya meneruskan jenjang pendidikan, dimana sebagian besar penghuni kelas didominasi teman saya saat TK. Di kelas lima tepatnya tahun 2005, guru menanyakan cita-cita setiap siswanya, pertanyaan itupun sampai pada urutann saya. Tanpa pikir panjang saya menjawab menjadi seorang guru adalah cita-cita saya.Waktunya di tahun 2006 dimana Ujian Nasional (UN) untuk jenjang SD dilaksanakan, dimana ujian tersebut menjadi momok terbesar untuk semua murid kelas enam dan ujian yang menentukan posisi kelulusan siswa serta penempatan siswa dijenjang pendidikan selanjutnya.
Masa penerimaan peserta didik baru tahun 2006/2007, saya mulai kebingungan mencari sekolah lanjutan. Di SMP Negeri 4 Juwana tempat pendidikan yang menjadi pilihanku setelah jenjang SD. Dimasa SMP, dimana saya mendapatkan teman-teman baru diluar daerah dan saat anak menunjukkan kelabilannya. Dimasa itu saya sering berantem dengan siswa cowok. Nama siwa yang paling jahilpun selalu teringat, diantaranya Handri Wahyu W, Ahmad Ali, Ahmad Sakur dan segerombolannya. Saat SMP saya mulai hobi membaca, terutama membaca komik dan novel. Satu hal yang saya ingat, dalam pelajaran bahasa Indonesia saya tidak memperhatikan guru tapi memperhatikan rangkaian kata yang ada dinovel.tiga tahun berlalu, saatnya menghadapi momok yang mengerikan untuk kedua kalinya, tapi dengan tahun yang berbeda yaitu ditahun 2009. Saat itu aku mulai berfikir untuk selalu belajar agar bisa masuk di sekolah yang saya inginkan. Dan keinginan itupun terwujud, mendapatkan nilai terbaik urutan ke empat dalam lingkup paralel dan masuk di SMA Negeri 1 Juwana. SMA terfavorit di kecamatan Juwana.
Di kelas X saya masuk di kelas X-6, dengan teman yang baru saya temui. Kelas X tentu mendapatkan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibandingkan kelas XI dan XII. Karena saat itu belum ada peminatan jurusan untuk kelas X. Akuntansi adalah mata pelajaran yang paling saya sukai. Hinnga membuat cita-cita saya berubah yang awalnya guru menjadi pegawai bank. Setahunpun terlalui, tahun ajaran baru ditahun 2010/2011, dimana pendidikanku naik kelas menjadi kelas XI. Disaat itulah setiap siswa dibingungkan dengan jurusan yang diinginkan. Dan saya ditempatkan di jurusan IPA, tepatnya dikelas IPA-1. Di kelas itu terdapat dua kepercayaan yaitu agama Kristen dan Islam. mulai saat itu saya dipusingkan dengan rumus fisika, nama-nama yang aneh dalam kimia dan hafalan yang menggunung dalam biologi. Setahun terlalui berbagai ilmu Science sudah tidak asing lagi didengar di kelas XII. Keluar lagi ingatan mengenai Ujian Nasional atau yang biasa disebut UN. UN SMA yang paling menakutkan yang pernah saya lalui sebelum-sebelumnya. Tiba saatnya ujian dimulai, rasa gugup tercampur takut juga singgah dipikiranku. Pengumuman kelulusan selama ini dinanti kedatangannya, amplop berisi kata LULUS yang diharapkan setiap siswa. Atas Rahmad Allah SWT juga kata LULUS tercantup diamplop yang saya terima.
Jenjang selanjutnya yang saya tempuh adalah perguruan tinggi. Kebibungan memilih perguruan tinggi juga saya rasakan. Setelah di Polines dan UGM tidak diterima,  pilihan terakhir adalah IAIN walisongo Semarang. Dan itu adalah jalan pendidikan saya menuju masa depan. Awal masuk perguruan tinggi juga menjadi awal saya memakai jilbab. Tadris Fisika merupakan pilihan pertama yang saya cantumkan dalam pengisian formulir pendaftaran. di Tadris Fisika ini lah saya menemukan teman-teman yang gokil yang, bahkan hampir menyerupai keanehan. Jauh dari pandangan orang kalau anak fisika itu selalu serious. Tahun berlalu begitu cepat dan saya enjoy menikmati hariku bersama mereka.
Beberapa bulan lalu  saya merasakan hal teraneh, dimana saya merasa kehilangan dan pasti tidak bertemu lagi. Salah satu nenek saya yang bernama Suparni menghembuskan nafas terakhirnya dibulan Juni lalu. Dua dua bulan sebelumnya salah satu saudara saya yang bernama Harsono meninggal dunia. Hal itu tentu mengingatka peristiwa Dua tahun sebelumnya, dimana temanku Mahfudh Dhonofi meninggalkan dunia karena kecelakan. Dan disetiap doa’ku aku berharap mereka selalu ditempatkan yang paling indah disisi Allah SWT.
Sampai tiba sekarang posisiku disemester V, saya merasa semester ini paling berat dari semester-semester sebelumnya. Berbagai tugas menumpuk dan harus dikebut dalam jangka waktu yang pendek. Namun saya yakin hal itu akan terasa mudah selama masih ada orang-orang yang menyayangiku terutama kedua orang tua, aku janji akan membahagiakan kalian. Terimakasih tidak terhingga saya panjatkan kepada Allah SWT dan kedua orang tua. Terimaksih kepada orang-orang yang aku sayangi dan telah mendukung saya. Dan terimakasih kepada teman-teman.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS