Anies Baswedan Hentikan
KURTILAS (Kurikulum 2013)
Kurikulum 2013 menitik beratkan pada tingkat keaktifan siswa,
seperti layaknya mahasiswa. Siswa harus mencari informasi melalui media lain
dan memahaminya, sehingga pekerjaan guru lebih “enteng”. Menurut Anies Baswedan
Kurikulum 2013 mendapat banyak protes dari berbagai pihak, kebanyakan dari
masyarakat. Masalah utama pada Kurikulum 2013 ada pada ketidaksiapan siswa,
guru, fasilitas pendidikan, evaluasi pembelajaran maupun ketidakstabilan
pelaksanaan dilapangan. Penghentian Kurikulum 2013 mendapat banyak dukungan
dari masyarakat. Masyarakat meniliai kurikulum ini terlalu berat ditetapkan
pada anak didik.
Kemencolokan Kurikulum 2013 terdapat pada penilaiannya atau
praktiknya dilapangan menggunakan skala 1 sampai 4, sedangkan KTSP menggunakan
skala 1 samapai 100. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah yang
belum membagikan nilai atau rapor akhir dan dibagikan sampai memasuki hari
aktif sekolah. Hal ini menunjukkan pada ketidaksiapan guru dalam menjalankan Kurikulum
2013, meskipun sering dilakukan Pendidikan Kilat (DIKLAT) selama Kurikulum 2013
dilaksanakan. Anies Baswedan beranggapan bahwa penetapan Kurikulum 2013 terlalu
terburu-buru tanpa mengetahui kondisi diapangan.
Anies Baswedan mengumumukan hasil evaluasi setelah pengkajian
dilakukan pada tanggal 5 Desember 2014. Hasil evaluasi itu mencakup tiga hal
yaitu pertama, sekolah yang sudah melaksanakan atau menjalankan kurikulum 2013
selama dua atau tiga semester untuk dilanjutkan. Kedua, sekolah yang baru
menjalankan selama satu semester di haruskan kembali pada Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidiikan (KTSP 2006). Ketiga, Kurikulum 2013 diberikan kepada Pusat
Kurikulum, Perbukuan dan Unit Implementasi Kurikulum untuk dilakukan perbaikan
dan pengembangan sehingga Kurikulum 2013 tidak terhenti.





